mereka membutuhkan orang tua yang memahami, mencintai, dan tidak menyerah...sebab, dibalik segala masalah yang tampak, mereka adalah anak-anak yang istimewa (kompas, 12-3-2011)

Sabtu, 21 Juli 2012

Buku: Take Charge of ADHD


Judul: Take Charge of ADHD (The Complete Authoritative Guide for Parents)
Pengarang: Russell A. Barkley, PhD
Penerbit: Hinkler Books 
Kategori: Psikologi Anak



Buku lengkap ini menjadi referensi bagi orang tua maupun guru, terapis dan keluarga dari anak ADHD yang membahas tentang:
  • rencana langkah-langkah mengatur perilaku yang telah banyak membantu ribuan anak ADHD
  • strategi baru yang memberi anak kesempatan bagus untuk sukses di sekolah dan di lingkungan sosial 
  • saran praktis untuk orang tua dalam menangani stress dan menjaga kedamaian dalam keluarga
  • list dari buku, organisasi dan sumber daya  
  • informasi tentang penelitian genetik dan neorologi sehubungan ADHD.

Selamat membaca :)

Rabu, 04 Juli 2012

TV dan Games

"Ma...boleh bawa psp ke rumah nenek ?" 
"Kenapa perlu bawa psp, nak ?"
"Karena sepupu-sepupu membawa game mereka, ma"

Pada awalnya ini percakapan rutin antara anak dan saya saat akan bersilahturami ke rumah keluarga atau saat kami akan pergi keluar rumah, sejauh ini permintaan tersebut tidak kami kabulkan dengan penjelasan ke anak bahwa tujuan bersilahturami adalah untuk berkumpul membaur dengan keluarga, jika setiap anak hanya sibuk bermain games masing-masing, apa artinya berkumpul ?

Sering kali pemandangan yang saya lihat dalam pertemuan keluarga maupun di lingkungan luar (misalnya di mall, ruang tunggu dan tempat umum lainnya) sebagian anak sibuk dengan portable game mereka. Penjelasan para orang tua yang mengijinkan hal ini adalah agar anak tenang.    

Gambar Bergerak
TV dan Games  (di HP, Tablet, Nintendo, PSP, PS2, Xbox, iPod dst) semua itu dikategorikan sebagai Gambar Bergerak yang sangat menarik bahkan membuat anak kecanduan. Dari pengalaman kami, penggunaan TV dan games yang berlebih membuat anak (terutama anak ADHD) menjadi semakin malas belajar, tidak fokus dan menunjukan sikap / memakai kata-kata "aneh" hasil dari tontonan di TV contohnya. Selain itu rutin melihat gambar bergerak terlalu lama, membuat anak bosan dan mengantuk saat membaca buku pelajaran.

Pengaruh negatif yg dapat timbul dari terlalu banyak Gambar Bergerak adalah :
  • membuat anak semakin tidak fokus dan malas belajar
  • anak menjadi kecanduan gambar bergerak
  • anak meniru sikap/kata kasar dari tontonan yang buruk 
  • kemampuan berinteraksi sosial anak berkurang karena sibuk sendiri (ada pepatah yang menyebutkan : gadget mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat).

Hak Istimewa dan Pembatasan
Berdasarkan pengalaman dan saran dari terapis, kami memberi batasan maksimum 2 jam per hari untuk gambar bergerak, yang dibagi menjadi 1 jam TV dan 1 jam Games (atau sesuai pilihan anak). Hak Istimewa TV & Games ini dapat digunakan anak pada hari tanpa ulangan dan saat PR telah dikerjakan dengan baik  atau pada akhir minggu terutama saat anak bersikap baik. Tetapi saat ulangan/ujian 'no games at all'.


Kegiatan Pengganti
  • ajak anak lebih banyak membaca, belikan anak buku-buku yang menarik
  • ajak anak melakukan kegiatan positif , misalnya bersepeda bersama, main bola, mengembangkan hobi dan bakat
  • agar tidak bosan, saat menunggu atau dlm perjalanan ajak anak ngobrol, mengisi teka teki silang, bermain tebak-tebakan dsb
  • perpikir kreatif....bagi orang tua utk mengarahkan anak melakukan kegiatan positif

Salam,
aprilrose    

Minggu, 03 Juni 2012

Terapi Perilaku


Selain terapi medis untuk mengontrol kondisi ADHD anak, ada juga pendekatan terapi non medis yang dinamakan terapi perilaku (behavioral therapy) yang bertujuan untuk mengubah pola-pola perilaku negatif menjadi perilaku positif.

Prinsipnya adalah menyusun ekspektasi yang jelas pada perilaku anak. Memuji dan memberikan penghargaan untuk perilaku positif dan menghalangi perilaku negatif.

Semua program terapi perilaku perlu menyertakan 4 prinsip ini:

  • perkuat perilaku baik dengan sistem imbalan / reward
  • acuhkan perilaku kurang baik yang ringan
  • cabut hak istimewa jika perilaku negatif menjadi terlalu serius untuk diacuh
  • hilangkan pemicu dari perilaku buruk

Beberapa contoh strategi yang dapat membantu menumbuhkan perilaku baik pada anak jika dijalankan secara konsisten dan kesabaran...tingkat tinggi:

  • buat jadwal rutin harian, tempelkan pada tempat yang mudah dilihat (kegiatan, waktu mengerjakan tugas sekolah, waktu les, waktu main, waktu istirahat, makan dsb).
  • puji perilaku baik (bisa berupa pujian, pelukan, senyuman dll).
  • acuhkan perilaku kurang pantas yang ringan.
  • gunakan perintah, petunjuk, penjelasan singkat (misalnya: tolong duduk) dan bukan bertanya (misalnya: kenapa engkau tidak duduk ?) dan secara spesifik (misalnya: engkau perlu duduk tenang di kursi dan jangan bergerak terus saat saya mengikat tali sepatumu.
  • gunakan kapan-setelah (misalnya: selesaikan PR mu, setelah itu engkau dapat naik sepeda/ main).
  • tetapkan aturan dasar, reward dan konsekuensi sebelum aktivitas (misalnya sebelum pergi ke restoran, minta anak untuk duduk dengan tenang dan sopan saat makan,  jelaskan reward dan konsekuensinya dan terapkan keduanya dengan konsisten).
  • ubah perilaku negatif dgn cara membuat daftar pencapaian dan reward (siapkan  daftar singkat perilaku baik yg diharapkan dari anak dan beri reward untuk setiap pencapaian, pastikan daftar tersebut realistis misalnya 2 atau 3 perilaku saja dan perbaharui daftar setelah tujuan tercapai).
  • bentuk dan nilai reward / token (siapkan token dan wadah yg menarik bisa stiker, gundu, stempel dsb sesuai usia anak,  setiap token mempunyai nilai yang dikumpulkan dan ditukarkan, misalnya tiap 1 token anak dapat jatah main game 10 menit atau 1 token bernilai rupiah yang ditabung pada orang tua dan kemudian  anak dapat membeli barang yang dia sukai,  Note: token rupiah juga mengajari anak menabung, tabungan hanya dapat digunakan 75% dari total token saja dan org tua yg tetap membayar ke kasir). 
  • menerapkan disiplin yang efektif (saat anak berperilaku negatif walaupun telah diingatkan daripada marah dan memukul, lebih baik mengurangi hak istimewa yang disukai anak atau gunakan metode timeout (utk anak usia lebih kecil), minta anak utk duduk diam di 'pojok timeout' selama waktu tertentu, 1 menit per 1 tahun usia anak), setelah konsekuensi selesai, ajak anak bicara baik-baik untuk  jelaskan kenapa dan apa harapan kita pada anak. 
  • latihan menghadapi masalah (secara rutin bahas kemungkinan masalah sehari-hari dan ajari bagaimana cara menghadapinya).
  • biasakan keteraturan dan kerapian (siapkan wadah berlabel untuk masing-masing barang, ajari anak untuk meletakkan barang-barang sesuai labelnya).
  • mengurangi distraksi (belajar di meja yang rapi/ tidak penuh dgn barang lain, bersih dari mainan dan matikan TV/radio).
  • batasi  pilihan (untuk mencegah kebingunan, batasi pilihan ke anak menjadi dua saja, misalnya pilihan makanan, pakaian, hadiah dll)
  • bantu anak menemukan bakatnya (setiap anak perlu mempunyai perasaan sukses untuk membangun harga diri dan pengembangan keahlian sosialnya, temukan dan dukung setiap pencapaian bakat anak, baik itu olah raga, seni, informasi teknologi dll). 


Referensi:
buku: Not a Little Monster! oleh Andri Priyatna

Jumat, 04 Mei 2012

Sekolah Talenta - Jakarta


Sekolah SD, SMP & SMA khusus bagi anak berkesulitan belajar (learning difficulties) yang berspesialisasi dalam mendidik dan membina anak-anak istimewa dengan metode pembelajaran yang berbeda dengan sekolah umum (regular). Diselenggarakan atas prakarsa para anggota yang peduli terhadap dunia pendidikan anak-anak yang mengalami berkesulitan belajar dan dibentuk oleh Yayasan Peduli Anak Spesial (YPAS).

Anak yang memiliki kesulitan belajar secara umum sama dengan anak biasa, tetapi biasanya memiliki kesulitan pada kegiatan belajar seperti Disleksia (membaca), Disgrafia (menulis), Diskalkulia (menghitung), ADD (Attention Deficit Disorder), ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Di lain pihak, anak istimewa ini biasanya memiliki talenta pada bidang melukis, menyanyi, musik, IT dan olah raga.

Pendekatan humanis dan individual menjadi cara bagi Sekolah Talenta dalam proses belajar yang dibutuhkan anak-anak berkesulitan belajar, sehingga keunikan tiap anak dapat tergali dan menjadi potensi bagi dirinya. Selain itu, Sekolah Talenta juga menyelenggarakan kegiatan sanggar seni sebagai metode dalam menyeimbangkan kemampuan berpikir dengan kemampuan berkreasi. 

Kontak:
Sekolah Talenta
Jl. Let Jen S Parman Flat A - 1, Slipi
Jakarta Barat
Telp. (021) 5367 2989

~ survey dibutuhkan sebelum memutuskan ~

Kamis, 03 Mei 2012

Museum Harry Darsono




Museum pribadi ini memiliki koleksi adibusana (haute couture) dari tahun ke tahun karya-karya istimewa dari Dr. Harry Darsono PhD dan juga benda-benda seni lainnya.

Kunjungan ke Museum Harry Darsono sangat saya rekomendasikan kepada orang tua ADHD, untuk melihat perjalanan hidup, keunikan, keistimewaan dan bukti bahwa ADHD dapat menjadi berkat dalam hidup anak-anak kita.

Perjanjian perlukan dilakukan sebelum mengunjungi museum yang berlokasi di Jakarta Selatan ini, dan akan diguide langsung oleh Dr. Harry Darsono PhD.  

Beberapa hal yang perlu ditanyakan saat membuat perjanjian:
- Jumlah peserta
- Dress Code
- Siapkan donasi
- Waktu kunjungan (membawa anak kecil, perlu dipertimbangkan dgn waktu kunjungan)

Kontak:
Museum Harry Darsono
Telp (021) 766 8553    Fax (021) 766 8554

Salam, 
aprilrose

Senin, 16 April 2012

Event: Nonton Bareng - Jakarta

Dalam rangka Kampanye Anak Berkebutuhan Khusus, College of Allied Educators Indonesia bekerja sama dgn HOPE Worldwide, CBN, KFCC, Shining Stars Academy,  didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, K3PIK, dan IPP, mengadakan kegiatan nonton film tentang Anak Kebutuhan Khusus!

Jadwal dan Film
23 April, jam 14.00 - 16.00 atau 16.00-18.00
filmnya TEMPLE GRANDIN (sebuah kisah nyata seorang anak autis)

26 April,  Jam 15.30 - 18.00
film EVERY CHILD IS SPECIAL (Taare Zameen Par - ini juga kisah nyata, loh).

27 April, jam 09.00-11.00 atau 16.00-18.00
film OCEAN HEAVEN (film drama keluarga yg mengharu-biru)

Lokasi:   Pusat Perfilman Usmar Ismail, jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.
Kontak:  021-33006177 , 021-30015795, 021-30015796
Biaya:     Satu tiket Rp.25 ribu, beli 3 tiket Rp. 50 ribu 
              (dana yg terkumpul untuk pendidikan anak  berkebutuhan khusus)

Sumber: CAE Indonesia

Senin, 12 Maret 2012

ADHD

Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah suka meletup-letup, aktifitas berlebihan, dan suka membuat keributan.

Epidemiologi
Angka kejadian ADHD di seluruh dunia diperkirakan mencapai hingga lebih dari 5 %. Dimana dilaporkan lebih banyak terdapat pada laki-laki dibandingkan dengan wanita. Di Amerika penelitian menunjukan kejadian ADHD mencapai hingga 7 %.

Patogenesis
Beberapa penelitian belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari ADHD. Seperti halnya dengan gangguan perkembangan lainnya (autisme).

1. Faktor lingkungan/psikososial
  • Konflik keluarga.
  • Sosial ekonomi keluarga yang tidak memadai.
  • Jumlah keluarga yang terlalu besar.
  • Orang tua terkena kasus kriminal.
  • Orang tua dengan gangguan jiwa (psikopat).
  • Anak yang diasuh di penitipan anak.
  • Riwayat kehamilan dengan eklampsia, perdarahan antepartum, fetal distress, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, ibu merokok saat hamil, dan alkohol.

2. Faktor genetik
Terdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin (D2 dan D4) pada kromosom 11p.

3. Gangguan otak dan metabolisme

Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmiter dopamin dan epinefrina. Teori faktor genetik, beberapa penelitian dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan saudara penderita ADHD memiliki risiko hingga 2-8 x terdapat gangguan ADHD. Teori lain menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh berbagai gangguan neurotransmiter sebagai pengatur gerakan dan control aktifitas diri.

Faktor risiko yang meningkatkan terjadinya ADHD

Gejala Klinis
Gejala yang timbul dapat bervariasi mulai dari yang ringan hingga yang berat, gejala ADHD sudah dapat dilihat sejak usia bayi, gejala yang harus dicermati adalah sensitif terhadap suara dan cahaya, menangis, suka menjerit dan sulit tidur. Waktu tidur yang kurang sehingga bayi seringkali terbangun. Sulit makan ASI dan minum ASI. Tidak senang digendong, suka membenturkan kepala dan sering marah berlebihan. Keluhan yang terlihat pada anak yang lebih besar adalah, tampak canggung, sering mengalami kecelakaan, perilaku berubah-ubah, gerakan konstan atau monoton, lebih ribut dibandingkan anak-anak lainnya, kurang konsentrasi, tidak bisa diam, mudah marah, nafsu makan buruk, koordinasi mata dan tangan tidak baik, suka menyakiti diri sendiri dan gangguan tidur.

Untuk mempermudah diagnosis pada ADHD harus memiliki tiga gejala utama yang nampak pada perilaku seorang anak.

3 Gejala Utama ADHD

1. Inatensi
Kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian. Seperti,
  • Jarang menyelesaikan perintah sampai tuntas.
  • Mainan, dll sering tertinggal.
  • Sering membuat kesalahan.
  • Mudah beralih perhatian (terutama oleh rangsang suara).

2. Hiperaktif
Perilaku yang tidak bisa diam. Seperti,
  • Banyak bicara.
  • Tidak dapat tenang/diam, mempunyai kebutuhan untuk selalu bergerak.
  • Sering membuat gaduh suasana.
  • Selalu memegang apa yang dilihat.
  • Sulit untuk duduk diam.
  • Lebih gelisah dan impulsif dibandingkan dengan mereka yang seusia.
3. Impulsive
Kesulitan untuk menunda respon (dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak sabar). Seperti,
  • Sering mengambil mainan teman dengan paksa.
  • Tidak sabaran.
  • Reaktif.
  • Sering bertindak tanpa dipikir dahulu.

Gejala-gejala Lain

4. Sikap menentang
seperti,
  • Sering melanggar peraturan.
  • Bermasalah dengan orang-orang yang memiliki otoritas.
  • Lebih mudah merasa terganggu, mudah marah (dibandingkan dengan mereka yang seusia).
5. Cemas
seperti,
  • Banyak mengalami rasa khawatir dan takut.
  • Cenderung emosional.
  • Sangat sensitif terhadap kritikan.
  • Mengalami kecemasan pada situasi yang baru atau yang tidak familiar.
  • Terlihat sangat pemalu dan menarik diri.
6. Problem sosial
seperti,
  • Hanya memiliki sedikit teman.
  • Sering memiliki rasa rendah diri dan tidak percaya diri.

Riwayat yang Diduga ADHD

1. Masa baby – infant
  • Anak serba sulit
  • Menjengkelkan
  • Serakah
  • Sulit tenang
  • Sulit tidur
  • Tidak ada nafsu makan
2. Masa prasekolah
  • Terlalu aktif
  • Keras kepala
  • Tidak pernah merasa puas
  • Suka menjengkelkan
  • Tidak bisa diam
  • Sulit beradaptasi dengan lingkungan
3. Usia sekolah
4. Remaja
  • Tidak dapat tenang
  • Sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat
  • Tidak konsisten dalam sikap dan penampilan

Tatalaksana

Terapi yang diberikan untuk tatalaksana pasien ADHD harus dilaksanakan secara menyeluruh, dimulai dari Edukasi dengan keluarga, terapi perilaku hingga terapi dengan obat-obatan farmasi. Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah,

Terapi obat-obatan
Terapi penunjang terhadap impuls-impuls hiperaktif dan tidak terkendali, biasanya digunakan antidepresan seperti Ritalin, Dexedrine, Desoxyn, Adderal, Cylert, Buspar,  dan Clonidine.

Terapi nutrisi dan diet
Keseimbangan diet karbohidrat protein

Terapi biomedis

Terapi perilaku
Terapi perilaku membantu anak dengan ADHD untuk mempunyai kemampuan beradaptasi dan memperbaiki kemampuan untuk memecahkan masalah.

Sumber: Wikipedia